Belajar

belajar

“Manusia harus belajar, meski Tuhan telah memberinya kelebihan.” Kalimat itu bukanlah hadits nabi, juga bukan berasal dari seorang filsuf, tapi datang dari Kobe Bryant, pebasket yang tengah naik daun menggantikan ketenaran Michael Jordan, Magic Jhonson dan Shaq O’Neill. Bagi pemain LA Lakers ini segala bakat dan kelebihan yang dimilikinya tidak berarti apa-apa tanpa belajar. Dunia basket profesional yang digelutinya menuntut setiap pemain basket untuk tampil tidak sekedar mengandalkan bakat, dan Kobe Bryant menyadari itu. Seorang atlit basket yang tidak pernah belajar akan tersingkir dari arena pertandingan yang serba kompetitif itu. Setiap latihan, setiap pertandingan demi pertandingan adalah proses belajar.

Bagi kita, remaja Islam, sebenarnya ucapan Bryant bisa jadi adalah klise. Karena bagi umat Islam sebenarnya tidak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Nabi kita, Muhammad saw.,  menyebut belajar sebagai aktivitas sejak dari buaian hingga ke liang lahat. Diawali dari belajar untuk mempertahankan hidup sampai belajar untuk mengembangkan semua potensi yang kita miliki. Akhirnya memang hanya kematian yang menghentikan kegiatan belajar. Bagi mereka yang masih hidup setiap detik kehidupan seharusnya adalah proses belajar.

Imam Syafi’i rahimahullah, kampiun fikih, bisa menjadi teladan dalam masalah mencari ilmu. Lahir di tengah keluarga yang miskin, Syafi’i muda harus mengais-ngais tempat pembuangan sampah di kantor-kantor daulah Islamiyyah untuk mencari kertas-kertas bekas yang masih dapat dipakai untuk mencatat pelajaran dari guru-gurunya. Ketekunannya tidak sia-sia, Imam Syafi’i akhirnya menjadi sebagai salah seorang ulama terkemuka yang banyak memiliki pengikut. Seorang sahabat dekatnya pernah ditanya ihwal kesungguhan mencari ilmu yang dilakukan Imam Syafi’i. Jawabnya; “Seperti seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya.”

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa saking banyaknya catatan-catatan pelajaran yang bertumpuk di kamarnya, membuat sang Imam sulit berbaring untuk tidur. Yang dilakukan Imam Syafi’i adalah menghafalkan seluruh isi catatan-catatan tersebut lalu membakarnya. Barulah kamarnya dapat dipergunakan untuk tidur.

Kalau kita menengok kepada sejarah kehidupan kaum muslimin, maka salah satu bagian yang amat menonjol adalah kegemaran mereka menimba ilmu. Cordoba, Baghdad, Bukhara adalah pusat-pusat kajian keilmuan yang didatangi orang dari berbagai penjuru dunia.

Menyoal keutamaan ilmu Imam Ali pernah berkata, ”Ilmu lebih baik dari harta. Harta membuat Anda sibuk menjaganya, sementara ilmu menjaga Anda.” Ali ra. juga berkata, “Harta habis bila dinafkahkan, sementara ilmu berkembang jika dipergunakan.”

* * * * *

Tabiat dasar manusia yang lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses salah satu penyebabnya. Kita lebih mudah berdecak kagum melihat prestasi belajar orang lain yang gila-gilaan, atau sirik setengah mati mendengar teman sebangku kita jadi tajir dengan menjual kemampuannya mendesain homepage. Kita juga berkhayal andaikan semua itu bisa datang pada diri kita.

Lupa atau menutup mata, kita tidak melihat bahwa mereka yang sukses harus jatuh bangun untuk membangun keberhasilan mereka. Mereka juga harus melewati tahap belajar untuk gagal dan sukses. Pak A.M Saefuddin yang pernah menjadi Menpangan dulu adalah Saefuddin kecil yang setiap hari harus berjalan kaki sejauh 5 km ke sekolahnya. David Beckham yang kaya dan diincar banyak klub-klub bola kaya di Eropa, tidak mendadak ngetop begitu saja. Kaki handal David Beckham yang ‘rajin’ memberikan umpan telak kepada rekan-rekannya di klub raksasa MU dan timnas Inggris adalah hasil latihan keras. Setiap harinya berjam-jam Beckham kecil berlatih menendang bola ke dalam ban mobil yang digantungnya. Dan ia baru bisa tidur nyenyak setelah banyak menembak tepat ke dalam sasaran. Hasilnya? Beckham adalah pemain tengah yang terkenal dengan passing yang akurat. Practice makes perfect, berlatih membuat kesempurnaan.

Tapi alih-alih belajar dan berlatih keras, kita lebih suka mengambil jalan pintas. Pusing-pusing belajar teori probabilitas, lebih baik mengambil peluang yang lebih besar; bikin contekan atau ambil posisi strategis di ruang ujian. PMP, posisi menentukan prestasi. Padahal, tidak ada kebanggaan bagi mereka yang berbuat curang. Lagipula, keberhasilan yang ingin kita peroleh, bukan sekedar kemenangan dunia, tapi juga kemenangan di akhirat.

Semoga bermanfaat
posted by badaruddin harahap
Wallahua’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: