PRAKTEK BURUK PELAKU POLIGAMI, BUKAN ALASAN MENGHARAMKAN POLIGAMI

Salah satu alasan yang sering dilontarkan kelompok feminis untuk menolak poligami adalah praktek buruk pelaku poligami. Banyak suami yang berpoligami mentelantarkan istri dan anak-anaknya, menjadi alasan untuk mengharamkan poligami. Tentu saja pandangan ini keliru. Adanya praktek yang keliru dari pelaku poligami tidak bisa dijadikan alasan mengharamkan poligami. Sebab, keberadaan poligami berdasarkan QS Nisa : 3 jelas dibolehkan oleh Allah SWT.
Logika, pengharaman berdasarkan praktek yang keliru jelas berbahaya. Jangankan yang berpoligami, yang menikah dengan satu istri juga banyak mentelantarkan istri dan anak-anaknya. Apakah kemudian dengan alasan yang sama kita kemudian mengharamkan pernikahan sama sekali meskipun dengan satu istri. Poligami adalah salah satu hukum Allah, berbuat baik dan adil kepada istri adalah hukum yang lain. Keduanya bukanlah syarat. Maksudnya, tidak boleh mensyaratkan adil dan berbuat baik kepada istri untuk sebuah pernikahan. Keduanya perkara yang berbeda.
Namun setelah seseorang menikah suami harus berbuat baik kepada istrinya, menyantuninya, dilarang menyakitinya. Baik istrinya satu atau lebih dari satu. Dalam Islam menyakiti istri (baik satu ataupun lebih) , mentelantarkannya, tidak memenuhi kewajiban menafkahinya, adalah tindakan kriminalitas yang diharamkan oleh Allah SWT. Negara lewat pengadilan boleh menjatuhkan hukuman untuk pelaku kriminalitas ini, tanpa perduli istrinya satu atau lebih. Jadi bukan menikahnya yang salah tapi menyakiti dan mentelantarkan istri yang salah.
Termasuk kita tidak boleh menggeneralisasikan seakan-akan semua praktik poligami membuat perempuan menderita. Pada faktanya, kalau poligami dijalankan dengan ikhlas dan benar sesuai syariah Islam , banyak istri yang tidak masalah. Dan kenapa pula kita hanya melihat kondisi istri yang pertama? Bukankah istri yang kedua juga adalah wanita yang merasa bahagia karena dia dinikahi secara sah ?
Masalah poligami dipandang cukup krusial dalam pandangan feminis. Menurut kelompok feminisme ini, betapa tidak, bagaimana sakit hatinya perempuan yang dikhianati cintanya oleh orang yang disayangi. Belum lagi bila suami bersikap tidak adil dan lebih cenderung kepada istri lainnya, menyebabkan perempuan (istri pertamanya) ditelantarkan begitupun anak-anaknya. Alasan ini yang digunakan untuk menolak hukum kebolehan poligami. Kaum feminis mengingkari kebolehan poligami dan mencoba mengharamkannya. Keputusan haram lahir dari fakta yang menunjukkan bahwa pelaku poligami umumnya berlaku tidak adil dan menyebabkan perempuan teraniaya. Dengan demikian poligami harus dilarang karena ekses yang ditimbulkannya berupa ketidakadilan bagi istri dan anak-anak menjadi terlantar.
Selanjutnya ketidakadilan poligami dinilai dari tidak etisnya alasan ketidakmampuan istri untuk bisa memperoleh keturunan yang sering dijadikan alasan mengajukan poligami. Keadaan istri yang mandul harus dibuktikan secara medis bukan hanya klaim suami saja. Kalaupun istri terbukti mandul, bukankah akan sangat menyakitkan hatinya jika kekurangan fisik yang telah diberikan sang Pencipta itu dijadikan dalih agar suami bisa menikah lagi.
Argumen seperti ini, tentu saja tidak berdasar. Fakta yang mereka ajukan boleh jadi memang benar. Ada istri yang ditelantarkan suaminya karena menikah lagi. Namun fakta ini tidak boleh dijadikan alasan untuk melarang poligami. Poligami adalah solusi yang diberikan Sang Pencipta manusia untuk mengatasi masalah. Perkawinan adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam menyalurkan hasrat naluri seksual. Perkawinan juga ditujukan untuk melahirkan keturunan dalam rangka pelestarian jenis manusia. Pada saat ada pasangan suami istri yang belum diberikan keturunan, sementara mereka segera menginginkannya, Allah SWT membolehkan suami menikah kembali dengan perempuan lain yang dapat memberi keturunan. Anak yang dilahirkan oleh istri kedua dari suami tadi, juga merupakan ”anak” bagi istri pertamanya.
Dalam hal ini, fakta lain menunjukkan tidak sedikit seorang istri yang mendorong suaminya menikah lagi agar ia mempunyai keturunan. Fakta menunjukkan ada banyak keluarga yang melakukan poligami, mereka hidup rukun dan damai, harmonis dan saling membantu.
Jadi, masalah yang seringkali muncul sebenarnya bukan karena poligami itu sendiri, melainkan karena pelaku poligami – dalam hal ini seorang suami – tidak menjalankan konsekuensi dari tindakan yang ia ambil. Saat ia memutuskan untuk berpoligami, seharusnya ia memahami dan menjalankan konsekuensinya. Ia harus mampu menghidupi lebih dari satu keluarga. Orang-orang yang berada dibawah tanggungjawabnya telah bertambah dan ia harus siap untuk itu. Ketika ia tidak memenuhi konsekuensi dari berpoligami dan berbuat tidak adil seperti menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya, yang disalahkan bukan hukum kebolehan poligami, namun pelaku poligami itu sendiri.
Perlindungan dan Penghormatan Islam Terhadap Perempuan
Islam yang diturunkan Allah Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui hakikat kaum perempuan, telah menempatkan mereka pada posisi yang layak demi kepentingan dan kebahagiaan mereka di dunia maupun di akhirat. Karena itu, bila para muslimah memahami, sungguh menarik bahwa dalam konsep Islam, surga bagi perempuan lebih mudah untuk diraih daripada kaum pria. Seperti dialog yang terjadi antara Asma’ binti Yazid dengan Rasulullah SAW, Asma’ berkata, “Wahai Rasulullah bukankah Engkau diutus oleh Allah untuk kaum laki-laki dan juga wanita, kenapa sejumlah syariat lebih berpihak kepada kaum pria, mereka diwajibkan jihad kami tidak, malah kami mengurus harta dan anak mereka di kala mereka sedang berjihad, mereka diwajibkan melaksanakan shalat Jum’at kami tidak, mereka diperintahkan mengantar jenazah sedangkan kami tidak.” Rasulullah SAW tertegun atas pertanyaan perempuanini sambil berkata kepada para shahabat, “Perhatikan betapa bagusnya pertanyaan perempuanini.” Beliau melanjutkan, “Wahai Asma’! Sampaikan jawaban kami kepada seluruh perempuan di belakangmu, yaitu apabila kalian bertanggung jawab dalam berumah tangga dan taat kepada suami, kalian dapatkan semua pahala kaum laki-laki itu.” (Diterjemahkan secara bebas, HR. Ibnu Abdil bar).
Dalam Al-Qur’an, perempuan ditempatkan paling tidak dalam tiga posisi, yaitu:
1. Perempuan sebagai pendamping pria dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, karena mereka adalah manusia yang satu.
Firman Allah SWTyang artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q. S. Ar-Ruum [30]: 21)
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan?.” (Q. S. Al-Hujuraat [49]: 13)
2. Dalam membangun kehidupan masyarakat, satu sama lain menjadi mitra kerja bagi yang lainnya
Orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kemakrufan dan mecegah kemungkaran. (QS at-Taubah [9]: 71).
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Bahwasannya para perempuan itu saudara kandung para pria.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi)
3. Perempuan sebagai ibu pencetak generasi berkualitas
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain…” (Q. S. An-Nisaa’ [4]: 1)
Demikian pandangan Islam menempatkan perempuan pada posisi yang terhormat. Sehingga apa pun peranannya baik sebagai anak, remaja, dewasa, Ibu rumah tangga, kaum professional seperti: guru, dokter dan lain-lain, mereka itu terhormat sejak kecil hingga usia lanjut.
Sementara kaum feminis ala Barat, mereka benar-benar menderita, terutama di waktu tua. Betapa tidak menderita, di usia-usia menjelang akhir hayatnya mereka harus berdiam di panti-panti jompo terpisah dari anak, cucu, keluarga dan kerabat sendiri. Hidup yang tersisa tiada berguna lagi.. Mereka pun mengadakan hari ibu agar dapat bertemu dengan keluarga setahun sekali. Sungguh menyedihkan. Jadi sebenarnya siapa yang berlaku diskriminatif terhadap perempuan? Jawabnya jelas: ideologi Kapitalisme. Wallahu a’lam bish shawab.[Ummu Fadhiilah & Ummu Nayla; Tim Pemberdayaan Perempuan DPP HTI

semoga bermanfaat
posted by badaruddin harahap
Wallahua’lam

________________________________________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: